pengertian dasar Ilmu Hakikat
Pernahkah terbersit dalam batin anda yang terdalam kebutuhan akan sesuatu yang bersifat essensial-mendasar,bersifat pasti-hakiki,ketika dalam realitas kehidupan kita berhadapan dengan hal hal yang dianggap serba bersifat ‘permukaan’,palsu,spekulatif,temporer,serba tak pasti,bila anda pernah merasakannya maka jalan untuk memahami apa itu ‘ilmu hakikat’ serta ‘kebenaran hakiki’ akan terbuka lebar,sebab ilmu hakikat adalah jalan untuk agar manusia menggapai semua yang dibutuhkan oleh suara hati yang terdalam itu,artinya dengan melihat perbedaan yang berlawanan antara yang bersifat permukaan dengan yang essensial,antara yang spekulatif dengan yang serba pasti,antara yang abadi dan yang temporer, antara yang palsu dengan yang bersifat hakiki maka pengertian paling mendasar tentang apa itu ‘kebenaran hakiki’ akan mudah untuk difahami.
Batin atau ruhani atau atau hati terdalam dari manusia adalah element tempat ilmu Tuhan yang terdalam bisa difahami dan dihayati serta dikelola,bisa kita bandingkan dengan ilmu logika yang lebih banyak menggunakan bagian otak (kepala).itulah sebab batin manusialah yang paling membutuhkan pemahaman tentang ilmu hakikat,bisa kita bayangkan bila para pemikir hanya mengandalkan kepala dalam berfikir tapi tidak banyak menggunakan ruhani atau batin maka kebenaran tertinggi yang bisa mereka raih paling kebenaran yang ber asas logika. padahal selain kepala Tuhan memberi manusia alat lain yang lebih mendalam dan lebih sensitive dalam berfikir yaitu ruhani (hati nurani) yang terletak dibagian hati yang terdalam, dan yang musti diketahui : kepala memiliki cara berfikir yang berbeda dengan hati.bayangkan bagaimana kita bisa mengelola ilmu logika tanpa kepala maka seperti itu pula bayangkan bagaimana kita bisa menghayati dan mengelola ilmu hakikat tanpa hati.
Mengapa ilmu hakikat harus lebih banyak dihayati dan dikelola dengan hati (?) sebab ilmu hakikat adalah ilmu dengan dimensi-scope yang jauh lebih luas dan lebih mendalam ketimbang ilmu logika sebab itu memerlukan alat berfikir yang bisa melihat dan berfikir secara lebih luas dari kepala.artinya otak manusia tidaklah memadai untuk menampung pemahaman dan penghayatan terhadap ilmu hakikat serta kebenaran yang bersifat hakiki sebagaimana sebuah ember kecil yang tidak bisa memuat air samudera raya.
Dan bila pemahaman terhadap ilmu hakikat ini kita telusuri melalui problem yang ada dan terjadi dalam ranah ilmu logika maka persoalannya akan menjadi lebih jelas dan terang,sebab itu ilmu dan kebenaran tidak bisa berhenti atau ber ujung pada ilmu logika serta kebenaran yang berasas logika,mengapa (?) karena ilmu logika dan kebenaran yang berasas logika bukanlah dan mustahil dijadikan bentuk ilmu dan kebenaran yang tertinggi dan terakhir sebab ;
Pertama : kebenaran yang bersandar pada logika masih selalu mungkin untuk terpecah kepada berbagai pendapat - pandangan yang masing masing bisa saja mengklaim sebagai ‘kebenaran yang logis’,sehingga dalam ranah kebenaran berasas logika berbagai fihak bisa saling meruntuhkan dengan alasan yang bisa sama dan tiap golongan bisa mengklaim pandangan merekalah yang paling ‘rasional’.
Kedua ; bila kebenaran tertinggi disandarkan pada kebenaran berdasar logika maka kebenaran itu akan seolah berada atau ditentukan oleh hasil pilihan logika manusia bukan oleh Tuhan,dan sampai hari ini tak ada seorang manusia pun yang berhasil menjadi ‘Tuhan’ dalam arti yang bisa menjadi ‘kebenaran tertinggi dan terakhir’. sedang untuk sampai pada derajat kebenaran tertinggi dan terakhir harus bersifat tunggal artinya tidak memiliki saingan yang bisa menyaingi dan meruntuhkannya, atau tak bisa disaingi serta diruntuhkan oleh apapun dan siapapun. dan artinya bentuk serta konsep kebenaran seperti itu harus ada pada Tuhan (yang tunggal) bukan pada manusia yang banyak.terlepas dari apakah kelak manusia mau percaya atau tidak pada Tuhan tapi secara keilmuan konsep ‘kebenaran tertinggi’ itu harus ada pada yang maha tunggal yang bukan manusia.
Artinya manusia memerlukan kebenaran tertinggi untuk mengatasi beragam bentuk kebenaran versi sudut pandang manusia yang masing masing bisa saja mengklaim ‘yang paling benar’,dan akhirnya untuk mengadili beragam bentuk kebenaran versi sudut pandang manusia yang beragam itu untuk dipilah mana yang hakikatnya benar dan mana yang hakikatnya salah. faktanya didunia ini kita akan selalu berhadapan dengan beragam bentuk kebenaran dari berbagai agama - berbagai isme - berbagai mazhab pemikiran- beragam ideology serta beragam sudut pandang manusia lainnnya yang masing masing selalu ingin memposisikan diri sebagai ‘yang benar’ sehingga bila kita adalah pencari kebenaran sejati maka berhadapan dengan realitas yang seperti itu pada akhirnya tentu kita akan bertanya tanya mana yang hakikatnya benar (?) dimana kata ’hakikat’ menunjuk pada kesejatian - kebenaran yang hakiki - yang sejati - yang sungguh sungguh benar- yang memiliki derajat yang tertinggi.
Bagaimana kita mencari jalan menuju kepada pengenalan terhadap sebuah bentuk ilmu dan kebenaran tertinggi dan terakhir yang tak bisa diruntuhkan oleh logika atau beragam bentuk kebenaran versi sudut pandang manusia itu (?) wacana filsafat banyak berbicara tentang ‘hakikat’ atau ‘hakikat dari segala suatu’ artinya makna - pengertian kata ‘hakikat’ sebagai ‘suatu yang bersifat mendasar’ sudah tertera dalam buku text filsafat,tapi kenapa filsafat tidak bisa menunjukan kepada adanya bentuk kebenaran universal yang bersifat hakiki yang bisa menjadi pedoman tunggal bagi keseluruhan umat manusia (?) kuncinya adalah bila filsafat tidak mau merapat kepada agama atau hanya menganggap agama hanya sebagai ‘ilusi’ atau ‘ajaran moral’ atau ‘sesuatu yang dibuat oleh manusia yang mengaku nabi’ maka pengenalan terhadap bentuk dan konsep ilmu hakikat (yang sejati) itu sampai kapan pun tidak akan pernah mereka temukan.
Sehingga artinya satu satunya jalan untuk mengenal apa itu ilmu hakikat yang sebenarnya (artinya yang bisa mengarahkan seluruh problem kebenaran kepada ketunggalan - kepada kebenaran yang menyatu) hanyalah bila manusia mau mengenal Tuhan (yang satu).
Dengan kata lain kita memerlukan semacam ‘kacamata Tuhan’ untuk menilai beragam bentuk kebenaran yang berwarna warni versi sudut pandang manusia itu dimana dengan kacamata Tuhan itu kita akan mengenal mana yang hakikatnya benar dan mana yang hakikatnya salah,itulah sebab ilmu tentang ‘hakikat’ harus selalu dikaitkan serta dilekatkan dengan Tuhan bila pemahaman kita terhadap pengertian ‘hakikat’ ingin efektif dan ber makna hakiki.sebab dalam wacana filsafat pengertian kata ‘hakikat’ bersifat kabur hanya difahami tidak lebih sebatas pengertian tentang ‘sesuatu yang bersifat mendasar’ tanpa mengarahkannya kepada yang Ilahiah atau terhadap kacamata sudut pandang yang tunggal,dengan konsep pengertian hakikat yang tidak ber akar seperti itu bagaimana manusia bisa mengadili serta memilah mana yang hakikatnya benar dan mana yang hakikatnya salah ?
Ilmu logika merupakan sebuah bentuk ilmu yang banyak menggunakan logika akal sebagai sarana berfikirnya serta penalaran atau ‘cara berfikir sistematis’ sebagai metodologi cara berfikirnya melahirkan apa yang disebut kebenaran menurut logika,tetapi hingga tahap ini apa yang disebut ‘kebenaran’ masih digelantungi beragam problematika dan bisa dikatakan masih jauh dari tuntas, sebab sebagaimana banyaknya kepala manusia begitu pula kebenaran menurut logika,sebab kebenaran berdasar logika mudah berbelok ke berbagai arah sesuai dengan pengalaman dan tujuan manusia,sehingga sampai pada tahap ini kebenaran belum berhenti disatu titik tapi masih terpecah belah kepada beragam visi - penilaian dan sudut pandang manusia yang bisa berbeda beda.dan itu adalah salah satu problem khas dari ilmu logika atau kebenaran versi logika akal fikiran manusia disamping adanya problem ‘logika buntu’ atau sesuatu yang sudah tak bisa dipecahkan oleh akal fikiran manusia.
Mengapa demikian (?) salah satu sebab nya adalah dalam membuat penilaian manusia tidak selalu menggunakan logika murni tapi didalamnya bisa turut serta berbagai faktor yang serba bersifat manusiawi seperti : rasa perasaan hawa nafsu - orientasi pemikiran - tujuan pribadi - pengalaman serta pengetahuan dan juga pengaruh kutur dan budaya.itu semua yang membuat bentuk nilai yang dihasilkan logika manusiawi menjadi bisa serba berbeda dan ber aneka warna sehingga bila di tela’ah bisa jatuh kepada benar dan juga bisa jatuh kepada salah. dengan kata lain dengan logika yang banyak dipengaruhi oleh berbagai unsur yang bersifat manusiawi manusia malah mudah jatuh kepada bentuk kebenaran spekulatif atau bentuk kebenaran yang tidak hakiki.sehingga dalam dimensi ilmu logika kita mengenal logika yang masih murni dan logika yang sudah terkontaminasi oleh berbagai unsur : unsur khayal,pemikiran,rasa perasaan nafsu, ideologi dlsb.dimana logika murni biasanya tidak menimbulkan benturan dan pertentangan satu sama lain tetapi logika yang sudah terkontaminasi itulah yang mudah untuk berbenturan satu sama lain.
Sebab itu kebenaran dalam dimensi logika juga meninggalkan teramat banyak masalah sebab didalamnya meninggalkan banyak perpecahan dan pertentangan antara beragam golongan dengan beragam bentuk nilai yang dibuat nya.sebabnya adalah tiap individu atau golongan bisa berlogika menurut sudut pandang nya sendiri sendiri kemudian melahirkan sebuah bentuk nilai yang selalu memiliki kemungkinan berbenturan dengan nilai yang difahami oleh individu atau golongan lain dimana masing masing bisa sama sama merasa benar.logika memang bisa melahirkan beragam bentuk nilai yang satu sama bisa saling bertubrukan sebab manusia sering melihatnya berdasar sudut pandang kepentingannya. sehingga apa yang disebut ‘benar’ dalam dimensi logika bisa jadi adalah benar menurut satu individu atau kelompok tapi bisa disebut ‘salah’ oleh individu atau kelompok lain.
Ambil contoh : seorang pencuri bisa saja berlogika bahwa apa yang diperbuatnya adalah suatu yang ‘benar’ sebab ia beralasan itu untuk membela perut keluarganya yang kelaparan.tapi seorang hakim punya logika lain dimana ia berpendapat logika hukum tak bisa ditafsirkan secara semena mena sebab logikanya mencuri menurut hukum adalah sebuah perbuatan yang salah apapun alasannya.contoh lain : golongan rasionalis berlogika bahwa ‘kebenaran tertinggi’ ada pada sudut pandang akal sebab itulah alat fikir terbaik yang dimiliki manusia.tapi kaum empiris berpendapat lain bahwa bukti fisik itu lebih merupakan ‘kebenaran tertinggi’ sebab tanpa bukti fisik maka semua deskripsi rasio hanya akan seperti ‘wacana’ atau ’teori’ belaka.begitulah para agamawan bisa memiliki logika yang berbeda dengan para saintis,orang beriman sudah pasti akan memiliki logika yang berbeda dengan orang tak beriman.kemudian guru dengan murid, penguasa dengan rakyat, orang tua dengan kaum muda dan akan teramat banyak lagi bentuk perbedaan dan pertentangan lainnya.
Lalu bila kita biarkan dunia dalam kondisi seperti itu maka bisa kita bayangkan betapa kacau balaunya wajah kebenaran didunia ini,sebab manusia akan selalu jatuh dan jatuh kepada sengketa perselisihan tanpa akhir sebab dalam dimensi kebenaran berasas logika masing masing seperti memiliki ukuran kebenaran yang berbeda beda.dan selanjutnya kebenaran akan menjadi dipandang sebagai suatu yang serba relative sebab teramat banyak bentuk dan ragamnya dan tak ada satupun yang berkuasa penuh dan mutlak untuk menempatkan diri sebagai ‘yang tertinggi yang menghakimi keseluruhan’.dan inilah akar yang melahirkan prinsip relativisme ala kaum sofis dimasa lalu dan kaum post mo di akhir zaman.
Karena itu harus ada sebuah konsep kebenaran yang bersifat abstrak yang bisa mengatasi seluruh kebenaran versi sudut pandang manusia,yang memiliki kekuatan penuh untuk membuat vonis akhir terhadap seluruh bentuk kebenaran versi sudut pandang manusia itu sehingga bisa memutuskan : ini yang hakikatnya benar dan ini yang hakikatnya salah.
Dan itulah kita harus mencari jalan atau tepatnya mencari sebuah konsep ilmu tersendiri yang bisa digunakan sebagai parameter tunggal untuk kelak bisa digunakan untuk mengukur seluruh bentuk kebenaran versi sudut pandang manusia itu agar bisa dihakimi mana yang sebenarnya benar dan mana yang sebenarnya salah.
Dan ilmu yang dimaksud mesti yang derajat kedudukannya lebih tinggi ketimbang ilmu logika dan bentuk kebenarannya tak boleh dibuat atau ditentukan melalui pilihan manusia tapi harus oleh yang kedudukannya lebih tinggi dari manusia.dan inilah satu satunya jalan untuk menyelesaikan sengketa pertentangan antara beragam bentuk kebenaran yang di definisikan manusia itu.
Dengan kata lain dalam peri kehidupannya manusia dengan beragam problematikanya sadar atau tak sadar secara alami manusia pasti sudah terbiasa menggunakan logika akal fikirannya,tetapi suatu saat pasti manusia akan berhadapan dengan problematika yang sudah tak bisa lagi direkonstruksi serta diselesaikan oleh logika akal nya,maka saat itu manusia seharusnya sadar bahwa ia memerlukan sebuah konsep ilmu yang lain yang derajatnya jauh lebih tinggi ketimbang ilmu logika yang bisa menunjukkan kepada adanya bentuk kebenaran tertinggi dan terakhir untuk kemudian memberi jawab terhadap beragam problematika yang sudah tak bisa lagi dijawab oleh logika akal.manusia memerlukan ilmu yang bisa membawa manusia ‘ke atas’ sehingga bisa mengadili beragam bentuk kebenaran yang ada dibawahnya,atau memerlukan ilmu yang bisa memberi manusia semacam teropong besar atau ‘teropong raksasa’ yang bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh ‘teropong teropong kecil’ yang berasal dari kacamata sudut pandang manusia.
Ilmu logika melahirkan bentuk kebenaran yang disebut ‘kebenaran versi logika akal’ atau ‘kebenaran rasional’ tapi bentuk kebenaran seperti itu bukan bentuk kebenaran yang bersifat tunggal tapi bisa banyak - beraneka rupa serta satu sama lain bisa saling bertentangan,sehingga sebanyak kepala manusia sebanyak itu pula kebenaran versi logika akal.sebab itu manusia harus dibawa ke tangga ilmu berikutnya yang bisa menunjukan kepada manusia adanya bentuk kebenaran yang bersifat tunggal yang memiliki derajat yang lebih tinggi dan karenanya bisa mengadili atau menghakimi seluruh kebenaran versi logika akal manusia yang banyak itu.sebab bila tidak dihakimi oleh bentuk kebenaran tertinggi yang bersifat tunggal maka problematika seputar kebenaran tidak akan pernah berakhir dan akan terus berputar putar dari kepala ke kepala.
Karena tujuan perjalanan ilmu kita adalah tentu bukan untuk bermuara pada kebenaran versi sudut pandang manusia yang masih bisa serba beragam itu tapi untuk menemukan ujung dari perjalanan panjang ilmu yang bermuara ke satu titik akhir yaitu kebenaran yang bersifat hakiki dan mutlak yang tak bisa diubah oleh manusia dan berlaku mutlak untuk seluruh umat manusia serta bisa jadi pedoman bersama seluruh umat manusia,maka kita memerlukan sebuah konsep ilmu yang bisa menunjukkan kita ke arah itu artinya kita memerlukan sebuah konsep ilmu yang hasilnya bisa merangkum keseluruhan serta menggiring keseluruhan yang beragam,berbeda beda serta beraneka warna itu kesatu titik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar